Bertempat di ruang 107 dua proposal penelitian dosen Akpar Makassar dibahas tuntas. Keduanya dibahas secara mendalam oleh 3 narasumber dan peserta seminar. Ketiga narasumber yang dihadirkan adalah Prof. Dr. Hamka Naping, Drs. Ama Saing, MM, dan Nico B. Pasaka, MMC (Magister of Management Conference). Kedua proposal ini mengambil tema sapta pesona dan wisata MICE.
Kedua tema tersebut diangkat sesuai dengan tema yang ditetapkan UPPM Akpar Makassar dalam tahun 2010 ini. Akpar Makassar melalui UPPM memprogramkan untuk lebih mendalami kedua hal tersebut secara lebih intens, metodologis, dan sistematis. Hal ini ditempuh mengingat mewujudkan intensitas yang lebih atas pembahasan kedua hal tersebut tidak bisa tidak hanya melalui penelitian ilmiah yang mempersyaratkan sisi metodologis dan sistematika pembahasan.
Mengapa dengan jalan penelitian? Jawabannya adalah bahwa dengan penelitianlah akan terjawab berbagai permasalahan. Lewat penelitian pula akan terungkap simpul-simpul yang berkaitan dengan sesuatu, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan sapta pesona dan MICE tadi.Alasan lainnya adalah bahwa, salah satu tugas pokok dosen adalah melakukan penelitian. Jadi, meneliti adalah salah satu tugas pokok.
Dua tema penelitian tadi diwujudkan dalam dua proposal dengan judul: 1) Implementasi Program Sapta Pesona pada Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Provinsi Sulawesi Selatan; 2) Pengembangan Destinasi Pariwisata Bisnis melalui Pasar Sasaran, Komunikasi Pemasaran, dan Strategi Pengembangan Pasar. Tema pertama (sapta pesona) dianggap sebagai akar pariwisata, sedangkan tema kedua (MICE) dianggap sebagai hal yang bisa mengangkat grade pariwisata.
Sapta pesona adalah tujuh unsur yang menjadi dasar pelaksanaan pariwisata. Dianggap dasar karena tanpa ketujuh unsur sapta pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan) tersebut, dapat ditebak bahwa kegiatan pariwisata suatu daerah akan tersendat.
Seperti dipahami bahwa pariwisata adalah bidang yang sangat sensitif. Oleh karena itulah perwujudan sapta pesona ini menjadi begitu penting dalam proses penanganan pariwisata. Boleh pula dikatakan bahwa di situlah, pada tujuh unsur pesona di atas, keberadaan akar pariwisata itu. Jika akarnya baik, ia akan mampu menyerap nutrisi dari sumbernya, yang nantinya membuat batang, ranting, daunnya menjadi sehat. Jika batang, ranting, daunnya sehat, efek berikutnya adalah keseluruhan “pohon” pariwisata itu akan sehat, yang pada akhirnya mampu menghasilkan buah bagi pemeliharanya, yang tak lain adalah pengelola pariwisata itu sendiri dan juga masyarakat.
Lalu, tema kedua (MICE) tak kalah pentingnya. MICE adalah salah satu bidang pariwisata yang sedikit kebal resesi. Wisatawan MICE relatif lebih pasti kedatangannya, dan relatif jarang melakukan pembatalan. Wisatawan umum sangat rentan terhadap gangguan semisal unjuk rasa, yang biasanya tidak terjadi pada wisatawan konvensi. Kedatangan peserta konvensi atau peserta pameran relatif lebih pasti.
Bidang MICE banyak dijadikan andalan oleh suatu destinasi atau daerah ataupun negara tujuan wisata. Saat ini dan juga masa-masa lalu, tingkat hunian hotel di Makassar sangat stabil pada persentase yang tinggi karena adanya aktivitas konvensi dan pameran. Ini sebuah bukti bahwa MICE begitu penting dan juga dipentingkan serta dijadikan hal penting oleh pemimpin suatu daerah yang menyadari manfaatnya.
Semoga berbagai hal yang mengganjal di balik kedua tema di atas bisa tersingkap lewat kegiatan penelitian dosen Akpar Makassar tersebut. (DarDerDor)



